Pembelajaran Bahasa Lampung Kelas 8 "Nuwo Sessat"
PELAJARAN BAHASA LAMPUNG KELAS 8 "NUWO SESSAT"
Sekolah : SMP Al Azhar 3 Bandar Lampung
Hari/Tanggal : Rabu, 23 September 2025
Kelas : 8A. 8B, 8C, 8D
Elemen : Ngedengei
Fase/Semester : D/Ganjil
CP : Peserta didik mampu mengindentifikasi informasi yang terdapat dalam teks desrkripsi
Materi : Lamban/Nuwo Sesat
Guru Pengampu : Alek Zulta Anggara, S.Pd.
Waktu : 1X Pertemuan (2 x 40 Menit)
TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik mampu mengindentifikasi informasi yang terdapat dalam teks desrkripsi
KEGIATAN PEMBELAJARAN
Assalamualaikum Wr. Wb.
Anak - anak hebat yang sholeh dan sholeha yang Bapak banggakan, apakah tadi subuh kalian sudah melaksanakan sholat subuh tepat waktu? untuk yang laki-laki solat subuh nya di masjid atau di musholla yaa, supaya kita mendapat keberkahan dari Allah SWT .. Dan untuk yang perempuan silahkan sholat subuh nya secara munfarid dirumah masing-masing...
Pertemuan lalu kita sudah belajar mengenai materi pepaccog atau wawancan, sekarang saatnya memasuki materi bru yaitu terkait "Nuwo Sesat"
Selamat berjumpa lagi di Semester Ganjil tahun ajaran 2025/2026 di bulan juli tahun 2025, kalian baru saja masuk kembali dari liburan semoga setelah liburan kemarin kalian semua menjadi semangat lagi untuk belajar. pada pertemuan sebelumnya kita sudah mempelajari mengenai tradisi lisan orang lampung yaitu terkait pepaccoghan, selanjutnya kita bersama akan membahas mengenai lamban/nuwo sesat orang lampung.
semoga pertemuan kita beberapa waktu ke depan diberikan kemudahan oleh allah Swt.
Kita simak dulu video dibawah ini ...
MATERI PELAJARAN
Kampung-kampung penduduk asli (tiyuh) pada dasamya belum berabah, rnasih menurat polanya yang lama yakni satu kampung dalam beberapa bagian yang disebut bilik, tempat kediaman suku yaitu tempat kediaman bagian klen yang disebut buway atau juga kadang-kadang gabungan buway seperti terdapat pada tiyuh-tiyuh masyarakat. Di setiap bilik terdapat rumah besar yang disebut nuwou balak atau nuwou menyanak atau ramah besar, rumah kerabat.Kemudian ada lagi beberapa rumah keluarga lainnya yang menurut adat masih merupakan dalam satu hubungan rumah besar tadi. Maka dalam perkembangannya di dalam satu tiyuh akan terdapat rumah kerabat yang tertua tadi. Kadangkadang terjadi nowou menyanak dari bagian klen yang lain datang kemudian masuk menjadi warga kampung dengan jalan mewari (diangkat sebagai saudara) pada kerabat tertua pendiri kampung. Baik kerabat yang berasal dari nowou menyanak semula maupun yang datang belakangan, mengakui bahwa kepala kerabat yang tertua itu adalah pemimpin mereka.Oleh sebab itu kepala kerabat semula yang tadinya adalah penyimbang suku tertua menjadi penyimbang bumi atau sebagai penyimbang marga.
Rumah Adat Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou.Bangunan ibadah disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan musyawarah disebut sesat atau bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka disebut Lamban Pamanohan.Seperti yang ada di Museum Ruwa Jurai Bandar Lampung Lamban Pesagi (rumah adat) berumur 150 tahun ditempatkan di bagian depan bangunan utama museum. Lamban Pesagi ini dilengkapi dengan sebuah lumbung padi, perahu lesung dan alat penumbuk kopi. Rumah adat orangLampung biasanya didirikan dekatsungai dan berjajarsepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway. Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis yang disebut marga.Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yangmewarisi kekuasaan memimpin keluarga (Siswanto,2009).
Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin ( penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah).Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung.Bagian-bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap).Atap itu disebut rurung agung.Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang gajah merem (tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang klias di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung),yang berwama putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.
secara umum Lamban Balak atau Nuwo Balak jenis rumah adat ini berasal dari etnis saibatin dengan gaya arsitektur menyerupai nuwo balak berupa rumah panggung. Rumah adat tradisional lampung yang dihuni oleh entitas Lampung yang beradat saibatin disebut dengan Lamban atau Lamban Balak. bagian bawah rumah panggung disebut bah lamban dan biasanya digunakan untuk menyimpan hasil panen.
KESIMPULAN
Rumah Adat Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwo angunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin ( penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah).Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung.Bagian-bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap).Atap itu disebut rurung agung.Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang gajah merem (tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang klias di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung),yang berwama putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.

Komentar
Posting Komentar